Cerpen
Cinta dan Takdir
Kemarin, entah
bagaimana caranya, dia tiba-tiba muncul di hadapanku tanpa tahu malu.
Lima tahun berpisah,
nyaris tidak pernah bertukar kabar, lalu ia tiba-tiba datang dengan membawa
sejuta kenangan. Aku masih ingat betul pertemuan terakhir kami yang terasa
biasa saja. Ia pergi ke suatu negara di Benua Eropa untuk menuntut ilmu, aku
mengantarnya ke bandara dan kami hanya saling memandang lalu ia pergi begitu
saja. Tidak ada tangisan, tidak ada kebahagiaan, hanya ada harapan semoga ia
bisa hidup tenang di negara seberang.
Ia tidak seperti diriku
yang suka memikirkan segala sesuatu, ia tipe orang yang lebih suka bertindak.
Mimpinya tidak pernah ia beritakan pada orang lain, tapi ia selalu berusaha
semaksimal mungkin untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Dan hari itu, ia
meninggalkanku di kota kecil ini untuk menuntut ilmu.
Segelas coklat panas
dan rintik hujan menjadi temanku saat ia datang kemarin. Aku sedang menikmati
libur akhir pekan dengan menonton drama korea di laptop sambil menikmati coklat
yang kupilih untuk menghangatkan badan saat hujan mengguyur bumi. Ketika sedang
menangis karena si pemeran utama harus kehilangan nyawanya karena sebuah
penyakit, suara ketukan dari pintu depan membuatku mengernyit.
Sebal, karena
konsentrasi dan moodku langsung buyar karena suara ketukan pintu itu sangatlah
menggangu. Aku keluar dari kamar sambil menghentakkan kaki, dan saat kubuka
pintu rumah dengan wajah cemberut, paras tampannya yang sudah lama tidak
kulihat secara langsung ada di sana dengan sangat nyata.
"Azmi?" Kataku
tidak percaya saat ia menampilkan senyum tipisnya yang menawan.
"Hai."
Ekspresi sebalku
berangsur-angsur menghilang dan digantikan rasa keterkejutan yang menerpa
seluruh sel dalam tubuhku.
Ini pasti mimpi. Aku
yakin ini pasti mimpi.Bagaimana bisa laki-laki yang dulu kupuja sebegitunya
tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan.
Aku benar-benar seperti
membeku saat melihat parasnya yang semakin tampan. Garis wajahnya terlihat
lebih tegas. Kulitnya yang dulu bewarna coklat terbakar matahari terlihat lebih
putih saat ini.
"Kamu tidak
menyuruhku untuk masuk?"
Aku hanya bisa
mengedipkan mataku dan mencoba mengatur detak jantungku. Aku tidak tahu apa
yang harus kulakukan sekarang.
Oke, biar aku jelaskan
secara singkat. Laki-laki yang berdiri di hadapanku ini adalah orang yang
kusukai sejak jaman SMP. Dia cinta pertamaku, tapi ia tidak pernah menganggapku
ada. Ia mengtahui dan sadar akan perasaanku padanya yang begitu menggebu-gebu,
tapi ia memilih untuk membiarkan perasaanku seperti angin lalu.
Interaksi kami selama
lima tahun, sejak kami masuk ke sekolah tingkat pertama hingga lulus sekolah
menengah atas pun terasa begitu singkat. Kami masuk di kelas yang sama saat
SMP, dan berpisah saat kami SMA. Lalu, kami harus berpisah lagi karena ia yang
memilih untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas ternama yang
bukan berada di Indonesia. Menyedihkan sekali kisah cinta pertamaku yang tidak
berbalas.
"Ana?"
Suaranya yang berat
membuatku terpaku sekali lagi. Aku menatapnya dengan sangat lama hingga tak
menyadari bahwa intensitas air hujan yang turun semakin lama semakin cepat
dengan kuantitas yang tambah banyak.
Aku membuka pintu masuk
rumahku dengan lebar lalu tersenyum tipis saat memandangnya tepat di bola mata.
"Masuk."
Kataku dengan suara serak.
Ia tersenyum tipis lalu
mencopot sepatunya dan masuk ke dalam rumah sederhanaku.
Aku menutup pintu agar
angin yang berhembus dengan dinginnya tidak masuk. Saat membalikan badan, aku
melihat ia sudah duduk manis di kursi tamu. Aku berjalan menuju single sofa
lalu duduk di sana.
Apa yang harus aku
katakan sekarang?
Aku harus membuka
percakapan dari mana?
Menanyakan kabarnya?
Bagaimana kuliahnya di
sana? Apa dia sudah lulus? Dia sudah bekerja? Atau apa?
Aku benar-benar tidak
tahu harus memulai dari mana.
"Kamu tidak perlu
terlalu banyak berpikir hendak mengatakan apa."
Aku mendongakan wajahku
yang tadinya menunduk. Aku menatap ke arahnya yang saat ini sedang tersenyum
manis maklum akan tindakanku yang sangatlah mudah untuk dibaca.
"Um, kamu mau
minum apa?" Kataku pada akhirnya.
"Teh hangat
saja."
Pilihan yang mudah.
"Aku buatin dulu
ya." Dengan cepat dan sedikit terburu karena merasa gugup, aku segera
berdiri dari kursi lalu berjalan menuju dapur.
Oke, sembari
membuatkannya teh hangat, mari kita pikirkan kemungkinan-kemungkinan alasan
mengapa ia tiba-tiba datang ke rumahku setelah lima tahun tidak bertemu.
1. Ia merindukanku.
Sebenarnya, yang ini sangatlah tidak mungkin. Peluangnya adalah satu banding
satu juta. Langkah yang bagus untuk menempatkan kemungkinan ini di nomor satu
agar aku sadar dan tidak terlalu berharap lagi agar ia bisa membalas perasaanku
yang mulai kadaluarsa.
2. Ia mengantarkan
undangan pernikahannya. Setahuku dia sudah memiliki seorang kekasih. Aku
mengetahui kabar itu sekitar tiga tahun yang lalu saat ada reuni. Mungkin saja
kan ia masih menjalani hubungan dengan pacarnya itu dan sekarang memutuskan
untuk menikah muda?
3. Ia merindukanku. Oh,
aku sudah mengatakannya, ya?
Hah, aku benar-benar
tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Oleh sebab itu aku seperti orang gagal
move on yang terus meracau akan kemungkinan-kemungkinan gila yang tidak akan
terjadi.
"AH!" Seruku
saat merasakan sensasi panas yang hadir tiba-tiba di telapak tanganku.
Oh bodoh sekali kamu, Alana?
Bagaimana bisa aku
menumpahkan air panas yang baru saja mendidih di atas kompor ke tanganku
sendiri saat menuangkannya ke dalam gelas? Kebiasaan yang buruk, selalu tidak
sadar akan apa yang aku lakukan jika sudah memikirkan hal-hal yang bisa membuat
kekacuauan dalam otak semakin tak tertahankan.
Dengan cepat aku
meletakan teko kecil yang masih terisi seperempat bagian itu ke atas meja lalu
berlari kecil ke tempat cuci piring. Aku membiarkan air mengalir di atas
telapak tangan kananku yang saat ini terlihat memerah karena terkena air panas.
Bodoh sekali, lagi-lagi bertindak begitu coroboh.
"Alana?"
Suara berat milik Azmi
tiba-tiba muncul dari arah belakangku. Aku menolehkan kepala dan menatapnya
dengan memasang ekspresi menahan sensasi perih akibat panas yang masih terasa.
"Kenapa?"
Tanyanya sambil berjalan ke arahku.
"Kena air
panas." Cicitku pelan.
Ia menatapku dengan
wajahnya yang berubah datar lalu berhenti di jarak setengah meter dariku. Ia
memandang tanganku yang masih berada di bawah pancuran air dengan wajahnya yang
sedikit prihatin.
"Kamu ada salep
untuk meredakan luka bakar itu?" Tanyanya padaku.
Aku menggelengkan
kepala sebagai jawaban.
Ia terlihat berpikir
sejenak lalu menghela napasnya berat. Ia berjalan mendekat ke arahku lalu
mematikan pancuran air yang tadinya mengalir. Dengan lembut, ia manarik
tanganku ke depan wajahnya dan mengamati luka kemerahan yang ada di sana.
Ia mengusap tanganku
dengan tangannya yang bebas dengan sentuhan lembut dan perlahan.
Memperlakukan luka itu
seakan jika ia mengusapnya dengan keras, tanganku bisa hancur di detik
berikutnya.
"Perih?"
Tanyanya sambil melirik tepat ke arah mataku.
Wajahku memanas melihat
ekspresi itu.
"Sedikit."
Cicitku pelan.
Aku tidak bisa
berkonsentrasi sekarang. Bagaimana bisa aku merasa gerah saat di luar sedang
hujan deras disertai angin kencang?
"Kamu ada tanaman
lidah buaya?" Tanyanya dengan posisi masih menggenggam tanganku.
Aku berpikir sejenak
dan menganggukan kepala.
"Ada, di kulkas.
Tapi, tinggal sedikit karena kemarin aku pakai untuk masker." Jawabku
padanya.
Ia menganggukan kepalanya
lalu menarik tanganku pelan ke arah lemari pendingin yang ada di sudut ruangan.
Ia membuka lemari itu lalu mengambil lidah buaya yang ada di dalamnya.
"Pisaunya di
mana?" Aku mencoba untuk mengambilkannya tapi ia masih menggengam tanganku
dengan sedikit erat.
"Em.."
Gumamku sambil menatap ke arah tanganku yang masih ada di dalam genggamannya.
"Oh, maaf. Nggak
kerasa kalau masih aku pegang."Jawabnya sambil melepaskan tanganku sambil
tersenyum tulus.
Oh, really Azmi?
Aku yang merasa pipiku
akan berubah warna menjadi merah langsung membalikan badan dan berjalan ke arah
tempat penyimpanan pisau.
Aku menghela napasku
berat, dadaku terasa sesak karena otakku yang penuh akan spekulasi. Aku
mengambil pisau dari sana lalu memberikannya pada Azmi.
Ia menerima pisau itu
sambil tersenyum lalu memotong lidah buaya. Ia melirik ke arah tempat piring
lalu berjalan ke sana dan mengambil mangkuk kecil. Ia memotong lidah buaya itu
kecil-kecil lalu meletakannya di sana. Setelah merasa cukup, ia mengembalikan
sisa lidah buaya yang ada ke dalam kulkas lalu menaruh pisau kotor itu ke
tempat cuci piring.
"Ayo ke ruang
tamu." Katanya padaku sambil membawa mangkuk kecil di tangannya.
"Ha?" Aku
yang tadi terfokus pada kegiatan yang ia lakukan hanya bisa menjawab seperti
itu sebagai respon untuk perkataannya.
Ayolah, fokus Alana.
Fokus.
Azmi terkekeh geli
melihat ekspresiku lalu berjalan ke arahku dengan perlahan. Ia menarik tanganku
lembut lalu berjalan ke ruang tamu. Ia mendudukanku di sofa untuk dua orang
lalu ia mengambil tempat di sebelahku. Dengan perlahan, ia menarik telapan
tanganku yang bewarna kemerahan lalu meniupkan udara dari mulutnya ke arah luka
bakar yang terlihat jelas di telapak tanganku.
Dan lagi-lagi, dengan
lirikan matanya yang bisa membuat jantungku berdebar tak karuan, ia bertanya
sambil menatapku dengan suaranya yang membuat hatiku bergetar,
"Perih?"
Aku tidak bisa
menemukan cara untuk berbicara. Hatiku terasa hangat saat melihat tatapannya.
Mataku memanas karena ingin menangis rasanya. Apakah ini hanya mimpi?
Orang yang kukagumi dan
kucintai selama sepuluh tahun tiba-tiba datang dan bersikap semanis ini? Ini
mimpi buruk atau mimpi indah?
"Perih ya pasti
sampai kamu mau nangis, gitu? Sabar ya." Ia menatapku dengan prihatin lalu
mengambil potongan lidah buaya dan mengoleskannya pada luka bakar yang ada.
Ia mengoleskan lidah
buaya itu dengan lembut, perlahan, dan merata. Seakan tindakannya penuh dengan
ketulusan dan cinta. Sial, kenapa ia bisa semudah ini membuat hatiku berdebar?
Kenapa saat aku merasa bisa melupakannya, dia selalu hadir dan membuatku merasa
ciut karena perasaan ini hadir lagi?
"Sudah. Nanti lima
belas menit lagi, aku olesin lagi. Biasanya cepat kering ini gel lidah
buayanya."Katanya sambil menaruh lidah buaya yang tadi ia gunakan ke dalam
cawan setelah nyaris satu menit ia mengoleskan gel lidah buaya ke luka bakar
yang masih memerah.
Aku hanya bisa
mengedipkan kelopak mataku mendengar jawabannya. Aku benar-benar selalu
terlihat seperti orang tolol jika berada di hadapannya.
"Makasih."
Kataku saat bisa menemukan cara untuk mengeluarkan kata dari pita suara.
Yang pastinya suaranya
terdengar sangat serak karena rasa gugup dalam dada, cih. Dasar Alana
pemilik hati lemah jika sudah dihadapkan dengan lelaki menawan bernama Azmi.
"Sama-sama, Alana."
Oh tidak.
Jangan.
Jangan sebut namaku
dengan menampilkan senyum tampan seperti itu, Azmi.
Kamu akan menambah
ritme jantungku yang semakin cepat berdetak. Kamu akan memperburuk efek konslet
di otakku dengan tatapan matamu yang lagi-lagi membuatku gagu.
Aku menghela napasku
dengan berat. Aku benar-benar tidak sanggup lagi terus-terusan seperti ini.
Semakin lama ia tidak mengatakan alasannya datang ke sini, semakin banyak
spekulasi gila yang muncul di otakku tanpa tahu malu.
Aku menarik napasku
dengan panjang lalu memberanikan diri untuk menatap mata Azmi dengan tatapan
serius kali ini.
"Azmi."
Kataku pada akhirnya.
"Iya?"
Jawabnya dengan suara luar biasa merdu.
"Kamu kok
ke-"
Bodoh. Pertanyaannya
kenapa kaya nggak terima banget gitu kalo dia main ke sini. Aku menggigit
bibirku dan memejamkan mataku sedetik dengan penuh penyesalan. Pilihan kata
yang benar-benar buruk. Tidak salah dulu saat aku SMA aku paling tidak bisa di
pelajaran bahasa Indonesia.
Aku menundukan wajahku
malu dan sesekali melirik ke arah Azmi yang sepertinya masih menunggu
pertanyaanku.
Seakan mengerti akan
apa yang ingin aku lontarkan, Azmi tiba-tiba tersenyum lalu memanggil namaku
pelan.
"Alana."
Aku mendongak
menatapnya lalu ia mencoba mengontrol emosi di wajahnya. Senyuman tipisnya
berangsur-angsur berganti menjadi senyuman tulus. Matanya memancarkan cahaya
yang entah kenapa membuatnya semakin tampan. Ia memandangku selama beberapa
detik sebelum akhirnya membuka mulutnya untuk mengucapkan kalimat.
"Aku sudah selesai
mengelana. Aku ada di sini, karena aku tahu, aku selalu tahu dari awal, bahwa
pada akhirnya, kamulah tempatku pulang. Aku sudah selasai berpetualang di masa
mudaku, Alana. Sekarang, biarkan aku pulang. Ke dekapanmu. Kamu bersedia kan
menyambut cinta pertamamu ini?"
Mantulllllll
BalasHapus